“Warna Bicara, Generasi Bergerak: Desain Visual sebagai Suara Sosial” Mahasiswa
Kompas Corner,Tangerang- Warna bukan sekadar elemen estetika, tetapi medium komunikasi sosial yang menyampaikan emosi kolektif dan identitas gerakan. Dalam konteks Indonesia saat ini, warna pink, hijau, dan biru menjadi simbol visual yang digunakan generasi muda untuk menyuarakan keberanian, harapan, dan peringatan.
Fenomena ini mencuat sejak akhir Agustus 2025, yang dipicu oleh aksi damai yang melibatkan sosok perempuan berhijab pink dan pengemudi ojol berjaket hijau yang tewas dalam demonstrasi. Unggahan digital berlatar biru turut memperkuat narasi visual yang menyebar luas di media sosial.
Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menanggapi fenomena ini sebagai bentuk retorika visual yang lahir dari emosi publik. Warna pink dipandang sebagai lambang keberanian yang lembut, hijau sebagai simbol solidaritas rakyat, dan biru sebagai alarm emosional yang mengajak refleksi.Dalam materi kuliah Desain Komunikasi Visual (DKV) UMN, warna dibahas sebagai alat komunikasi non-verbal yang membentuk persepsi sosial. Teori warna dari Johannes Itten menyebut bahwa setiap warna memiliki resonansi psikologis, sementara Paul Rand menekankan desain sebagai upaya membangun identitas dan memperkuat pesan.
Warna pink, yang selama ini diasosiasikan dengan kelembutan dan feminitas, kini tampil sebagai lambang keberanian. Sosok Ana seorang perempuan berhijab pink yang berdiri di hadapan aparat menjadi ikon visual yang menyentuh banyak hati. Mahasiswa DKV UMN menyebutnya sebagai “bravery in softness,” bentuk kekuatan yang tidak agresif namun tetap tegas. Dalam teori warna, Paul Rand menyebut desain sebagai “usaha membangun identitas dan memperkuat pesan.” Pink dalam konteks ini bukan sekadar estetika, melainkan identitas gerakan yang menyuarakan empati dan keteguhan.
Warna hijau muncul dari jaket ojek online yang dikenakan Affan Kurniawan, pengemudi ojol yang tewas dalam demonstrasi. Warna ini menjadi lambang “Hero Green” sebagai pahlawan jalanan yang dekat dengan rakyat kecil. Mahasiswa UMN melihat hijau sebagai warna solidaritas dan pengorbanan.Bruno Munari, desainer dan teoretikus Italia, menyebut desain sebagai “cara mengubah ide abstrak menjadi bentuk visual yang mudah dipahami.” Dalam kasus ini, hijau menjadi bentuk visual dari harapan dan koneksi sosial yang konkret.
Warna Biru, yang secara umum diasosiasikan dengan ketenangan dan stabilitas, dalam konteks ini menjadi “Warning Blue” sebagai penanda urgensi sosial yang mengganggu dalam diam. Menurut Telkom University dan Inagrafis, biru juga dikenal sebagai warna yang membangun kepercayaan dan daya tarik universal.
Gerakan visual ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga memahami dan menyuarakan melalui simbol. Gen Z tidak sekadar mengonsumsi informasi, tetapi menciptakan bahasa baru yang damai dan reflektif. Seiring partisipasi generasi muda dalam membentuk narasi publik, desain komunikasi visual di Indonesia terus berkembang. Dukungan akademik dan ruang diskusi terbuka menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan visual yang bermakna.
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.