KRITIK PEDAS MAHASISWA JURUSAN PERFILMAN & ANIMASI UMN MENGENAI FILM ANIMASI MERAH PUTIH : ONE FOR ALL.
Kompas Corner, Tangerang – Menjelang hari kemerdekaan, Indonesia digemparkan oleh penayangan film animasi yang menuai banyaknya kontra bagi kalangan penikmat film tanah air. Hal ini dikarenakan kualitas-nya yang tidak layak untuk ditayangkan, dan pembuatan film yang memberikan kesan buruk dengan penggunaan AI (Artificial Intelligence).
Banyaknya penikmat film, maupun pekerja film buka suara mengenai hal ini yang dengan tegas menyatakan penolakan terhadap distribusi film ini ke bioskop tanah air. Menanggapi hal ini, sebagai penerus industri perfilman tanah air, mahasiswa perfilman dan animasi juga turut buka suara mengenai hal ini.
Ananda Vieri, Mahasiswa UMN jurusan animasi semester 5 berpendapat bahwa film ini hanya merusak citra animasi tanah air. “Ya menurut gue sih, Hal ini gak layak untuk ditayangkan. Apalagi dengan produksi yang cenderung asal – asalan, animasi curian serta storytelling yang gak jelas, a big no sih, kalau dari gue.” Sebelumnya, Nicho, seorang mahasiswa film UMN semester 5 berpendapat bahwa film ini hanyalah pencemaran nama baik untuk industri film kita dimasa yang akan datang. “Jujur gak jelas ajasih, storytelling-nya ngaco. Soundnya ga niat, scoring asal-asalan, karakternya jelas banget AI-nya, ini cuma menodai nama baik industri perfilman kita, mending gak usah tayang.”
Komentar
Silakan login untuk berkomentar.