Jumbo : Film Animasi Mengenai “Bullying” Loncat ke konten

Jumbo : Film Animasi Mengenai “Bullying”

28 Nov 2025 · World

Kompas Corner, Gading Serpong – Dunia perfilman Indonesia kembali disambut dengan kabar gembira. Sebuah film animasi berjudul JUMBO berhasil meraih 4 juta penonton dan tayang di lebih dari 17 negara. Hal ini membuktikan bahwa film animasi Indonesia mampu bersaing secara internasional. Selain menyuguhkan visual yang memukau dan cerita yang menginspirasi, film ini juga merepresentasikan salah satu fenomena yang kerap terjadi di Indonesia, yaitu perundungan “bullying”. 


Sinopsis

Mengutip detik.com, film ini berkisah tentang seorang anak berusia 10 tahun bernama Don. Ia kerap dipanggil “Jumbo” karena memiliki tubuh yang sedikit berisi dan gempal. Don sering kali dirundung oleh teman-temannya. Karena hal tersebut, ia ingin membuktikan kemampuannya dengan membuat sebuah pentas seni berdasarkan buku pengantar tidur berjudul Pulau Gelembung, pemberian dari almarhum ibunya.

Namun, rencana itu tidak berjalan semulus yang ia bayangkan. Salah satu temannya sekaligus perundung, Atta, mencuri buku tersebut. Meski begitu, Don tidak menghadapi tantangan ini sendirian. Ia ditemani oleh tiga sahabatnya: Mae, Oma, dan Nurman. Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan Meri, arwah gadis kecil yang terpisah dari orang tuanya. Bersama, mereka memulai petualangan untuk mencari buku Don sekaligus membantu Meri menemukan kembali keluarganya.


Proses Produksi


Pembuatan film Jumbo memakan waktu yang sangat lama, melibatkan berbagai tahap yang kompleks, mulai dari penulisan naskah, pengembangan karakter, hingga animasi dan pascaproduksi. Tim produksi bekerja keras untuk memastikan bahwa setiap elemen film dapat menyampaikan pesan yang kuat tentang perundungan dan pentingnya persahabatan. Dalam proses ini, mereka melakukan riset mendalam mengenai dampak bullying pada anak-anak, serta cara-cara untuk mengatasi dan mencegahnya.

Sutradara Ryan mengungkapkan bahwa mereka ingin film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memberikan edukasi kepada penonton, terutama anak-anak, tentang pentingnya empati dan dukungan terhadap teman-teman yang mengalami perundungan. "Kami ingin penonton merasakan apa yang dialami Don dan memahami bahwa bullying adalah masalah serius yang perlu diatasi bersama," ujarnya.


Menghighlight topik “Bullying”



  Film Jumbo dengan berani mengangkat tema bullying, yang merupakan fenomena sosial yang masih banyak terjadi di kalangan anak-anak. Melalui karakter Don, penonton diajak untuk merasakan betapa menyedihkannya menjadi korban perundungan. Don, yang dipanggil "Jumbo" karena penampilannya, menjadi simbol bagi banyak anak yang merasa terasing dan tidak diterima.


   Dalam perjalanan cerita, penonton melihat bagaimana Dia berjuang untuk mengatasi rasa sakit dan ketidakadilan yang dialaminya. Dukungan dari sahabat-sahabatnya, Mae, Oma, dan Nurman, menunjukkan betapa pentingnya memiliki teman yang setia dan saling mendukung dalam menghadapi tantangan. Selain itu, interaksi mereka dengan Meri, arwah gadis kecil yang juga mengalami kehilangan, menambah dimensi emosional pada cerita dan mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing.


Film ini mengajak penonton untuk tidak hanya menjadi saksi dari perundungan, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik dan lebih inklusif. Dengan pesan yang kuat dan visual yang menarik, Jumbo berhasil menyampaikan bahwa setiap anak berhak untuk merasa aman dan diterima, serta pentingnya untuk berdiri melawan bullying.



Komentar

Silakan login untuk berkomentar.

Related